Langsung ke konten utama

Longshan Temple

Hari ini aku sama temen2 sekelas pergi ke Kuil Longshan. Longshan yang berarti "Naga Gunung" ini adalah kuil Buddha tertua di Taiwan. Kuil ini selalu rame karena terkenal. Banyak turis yang dateng kesini, tapi masih kalah sama lansia2nya. Aku heran kenapa banyak lansia disini...Kenapa namanya ga dinamain "Kuil Para Tetua" yah? wkwkwkwk XD Mungkin karena ini kuil tertua jadi yang  dateng orang tua semua :3
DSC_0190
Oh iya, kuil ini dikhususkan buat menghormati Dewi Kuan Im (Guan Yin). Tau kan? Yang di cerita Sungokong  dulu itu.. Sungokong tau kan? Kera Sakti? Yang "soundtrack" nya nge-rap itu.. XD Nah, Dewi Guan Yin ini yang paling cantik terus naik teratai sama bawa botol air itu. Dia bukan hanya sekedar cantik, tapi baik banget. Menurut versi buku yg aku baca (karena ada beberapa versi), Dia rela ngorbanin mata, tangan, & kakinya buat bapaknya yang juga jadi Raja. Padahal bapaknya jahat banget. Beberapa kali Guan Yin ini mau dibunuh sama bapaknya karena gamau nikah dan lebih memilih jadi Bhikuni.. wew.. Tapi cerita ini berakhir dengan bahagia kok ^^
Disini aku juga liat Kwan Kong (Guan Yu), yang mukanya merah sama jenggot panjang.. Pasti yang main game "Three Kingdom" tau deh... :D Dia terkenal pemarah, tapi berbudi mulia. Cao2 kagum banget sama dia sampe dikasih tutup janggut, benda2 berharga, sampe pada akhirnya kuda merah sakti (ex kudanya Lu Bu) direlain juga sama Cao2 buat merebut hati Kwan Kong. Tapi tetep gagal.. Akhirnya, benda2 yang lain dibalikin, tapi Kwan Kong ga balikin tuh kuda karena udh terlanjur cinta.. wkwkwkwk XD Baca/ nonton Samkok! Keren abis!
Ada satu lagi sih, Dewa Laut, tapi gatau siapa dan ga ngerti ceritanya XD .. Mungkin yang tau bisa menambahkan? :3
DSC_0147
DSC_0148
DSC_0149
Bangunannya bagus dan bersih (ga ada sarang laba2 dan debu2 jorok nempel di langit2 dan ukirannya). Tapi ya kalo yang ga kuat bau dupa disarankan jangan lama- lama disini, bisa mabok.. Kekurangannya cuma satu. Hari ini HUJAN :( jadi ga enak buat motret dan liat2...
DSC_0153
DSC_0199
DSC_0205
DSC_0206
Pulang dari kuil bisa langsung mampir di Pasar Malem Huaxi. Deket banget. Disini kita bisa makan apa aja dari A sampe Z, lengkap banget dan ga mahal. ^^ Bagi para pecinta Naga juga pasti betah disini karena dimana- mana orang jualan pernak- pernik Naga :D
DSC_0213
DSC_0221
10456829_4162694242471_8219917818906459341_n
 
Ya inilah kira2 Kuil Longshan waktu magrib..whehehehe :3 Sekian! Dadaah!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ninh Binh dan Perempuan Perkasa

Untuk  mengkahiri perjalanan kami di Vietnam, aku milih ke Ninh Binh, sementara Jessi pergi kursus memasak. Ninh Binh itu versi daratnya Halong Bay. Menurutku, sih, gitu. Letaknya juga gak jauh- jauh amat dari Hanoi, paling sekitar dua jam ke selatan. Begitu sampe, kami serombongan disuruh makan di resto. Walaupun menunya cuma nasi, tahu, dan sayur, tapi karena aku udah laper banget jadi rasanya nikmaaaat tak tergantikan! Eh, pas udah mau abis aku nemu item- item di tengah nasi.. Aku mikir; "Apaan, nih?!" O MAI GAT!!! TERNYATA KECOAK!! Sumpah, aku langsung speechless .. Orang- orang yang makan bareng aku sontak pada berenti makan, kaget juga liatnya.. Aku gak muntah seperti yang kalian bayangkan, cuma minum air banyak- banyak, abis itu ambil sepeda buat keliling Ninh Binh! Try to forget that awful experience! Di sana aku diajak ke Bich Dong Pagoda sama ke gua- gua yang aku gaktau namanya. Dulu, provinsi ini merupakan pusat kerajaan Vietnam selama beberapa dinasti. ...

Perbatasan Terkutuk (Vietnam- Laos)

Perjalanan menyebrangi perbatasan kali ini benar- benar tak terlupakan. Di sleeping bus yang kami tumpangi, aku tidur di bawah sementara di atasku ada tante Turki setengah baya yang selalu panas hati. Pas aku lagi tidur, tiba- tiba dia teriak di kupingku; "Heh! Kamu nyolong syalku, yah?" "What? I was sleeping!" "Tapi kenapa syalku ada di sebelahmu?"; bentaknya  lagi. "Mana kutau? Jatoh kali!" "I don't believe you!" "Whatever! I don't care.."; sahutku ikutan emosi. Pagi- pagi udah dibikin emosi. Kampret banget! Kalau gak mau jatoh, iket tuh di kepala biar jadi kaya pendekar kesiangan. Cape, deh. Gak lama, bus kamipun berhenti di perbatasan. Karena kami berdua dari Asia Tenggara, ngantrinya beda sama yang dari Eropa. Aku sama Jessica sempet kebingungan karena gak ada yang bisa bahasa Inggris dan gak tau sebenernya harus ngantri di bagian yang mana. Untung aja ada om- om Thai yang bisa bahasa Melayu yang bantuin....

Mata Asing

Waktu kita berbaring di atas gemerlapnya pasir pantai malam itu , tiba- tiba kamu mengajukan pertanyaan yang selama ini masih terus kucari jawabannya; "Apa cita- citamu?" "Banyak", cuma itu saja jawabku, karena terlalu susah menjelaskan kalau aku punya segudang cita- cita gila. Misalnya, kerja di NatGeo, jadi penulis, bikin museum dongeng, tourguide , dsb. Singkatnya, banyak! Jujur, aku tidak tahu apa yang benar- benar pandai kukerjakan. Aku bahkan juga bingung kenapa aku belajar mandarin! Jadi, keinginan di atas sepertinya mustahil. Untuk beberapa saat, kita terdiam dalam keheningan sambil menatap lautan bintang yang sepertinya kurang cahaya, bersimpati pada jiwaku yang muram. Aku menoleh memandang matamu yang sedang mengangkasa, mencoba menerka apa yang kamu pikirkan. Mungkin cita- citamu, atau mantan yang baru mencampakkanmu bulan lalu. Setidaknya, sinar bulan puranama yang berpendar dikedua mata besar nan indah itu memberitahuku bahwa aku tak sendiri. Kita...