Langsung ke konten utama

Miniatures Museum of Taiwan

Nah, Sabtu kemaren aku pergi ke Museum Miniatur. Alamatnya di deket stasiun MRT Nanshijiao, exit berapa aja bisa.. Terus tinggal tanya orang deh..wkwkwkwk lupa habisnya XD hehehehe.. Per orang bayarnya 180NT, kalo pelajar 150NT. Aku kena 180 NT gara2 masih sekolah bahasa. Pelit banget neneknya yang jaga, padahal di museum laen didiskon tuh.. (._.(._.) Annoying... hahahaha.. *pelitnyakeluar*
Begitu masuk aku bengong... Terkesima.. Bagus banget!!!
Di ruangan depan ada silsilah Barbie dari A-Z.  Kata temenku yg orang Taiwan (dia jadi translator btw), rata2 satu anak perempuan di US punya antara 6-8 Barbie. Nama "Barbie "diambil dari nama anaknya yg punya pabrik. Terus pacarnya yg namanya Ken itu beneran nama pacarnya Barbie di dunia nyata. Ada lagi temen2nya tapi lupa.. Bajunya heboh2! Ada yang dandannya ala Lady Gaga...  wkwkwkwk..
Disebelahnya, ada Tiga Pendekar (sebut aja gitu.. Abis gatau..) Pokoknya ada Liu Bei, Guan Yu, sama Zhang Fei...
Nah, kalo yang ini gambaran cewe2 di Dinasti Tang... Yang sebelah kiri mungkin Mak Comblang kali ya (gatau juga sih).. Yang kanan mungkin pemain opera.. hehehehe..
Kalo yang ini cewe2 dari Dinasti Ming..
Detailnya ngeri banget! Dewa yang bikin! Sabar dan teliti banget... Coba kalo aku.. Pasti udah emosi, yang ada malah ancur... -_-"
   
Yang kanan itu dibuat dari kulit jagung.. Lucu yah ^^
Makin ke belakang makin bagus.. Di ruangan dalem ada  diorama cerita dongeng.. Mulai dari Putri Salju, CinderellaGulliver's Travel, Pinokio, Jack and The Giant, Alice, dll. Bahkan ada Phantom of the Opera. Tapi yang paling aku suka yang judulnya Dunia Peri. Walopun keliatannya berantakan tapi bagus banget... Motretnya setengah mati tauga, habis kacanya mantul. Benar- benar perjuangan.
   
   
   
Bener2 layak dikunjungi.. Jam 10 pagi sampe 5 sore ga kerasa... XD Abis liatnya pelan- pelan... :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ninh Binh dan Perempuan Perkasa

Untuk  mengkahiri perjalanan kami di Vietnam, aku milih ke Ninh Binh, sementara Jessi pergi kursus memasak. Ninh Binh itu versi daratnya Halong Bay. Menurutku, sih, gitu. Letaknya juga gak jauh- jauh amat dari Hanoi, paling sekitar dua jam ke selatan. Begitu sampe, kami serombongan disuruh makan di resto. Walaupun menunya cuma nasi, tahu, dan sayur, tapi karena aku udah laper banget jadi rasanya nikmaaaat tak tergantikan! Eh, pas udah mau abis aku nemu item- item di tengah nasi.. Aku mikir; "Apaan, nih?!" O MAI GAT!!! TERNYATA KECOAK!! Sumpah, aku langsung speechless .. Orang- orang yang makan bareng aku sontak pada berenti makan, kaget juga liatnya.. Aku gak muntah seperti yang kalian bayangkan, cuma minum air banyak- banyak, abis itu ambil sepeda buat keliling Ninh Binh! Try to forget that awful experience! Di sana aku diajak ke Bich Dong Pagoda sama ke gua- gua yang aku gaktau namanya. Dulu, provinsi ini merupakan pusat kerajaan Vietnam selama beberapa dinasti. ...

Perbatasan Terkutuk (Vietnam- Laos)

Perjalanan menyebrangi perbatasan kali ini benar- benar tak terlupakan. Di sleeping bus yang kami tumpangi, aku tidur di bawah sementara di atasku ada tante Turki setengah baya yang selalu panas hati. Pas aku lagi tidur, tiba- tiba dia teriak di kupingku; "Heh! Kamu nyolong syalku, yah?" "What? I was sleeping!" "Tapi kenapa syalku ada di sebelahmu?"; bentaknya  lagi. "Mana kutau? Jatoh kali!" "I don't believe you!" "Whatever! I don't care.."; sahutku ikutan emosi. Pagi- pagi udah dibikin emosi. Kampret banget! Kalau gak mau jatoh, iket tuh di kepala biar jadi kaya pendekar kesiangan. Cape, deh. Gak lama, bus kamipun berhenti di perbatasan. Karena kami berdua dari Asia Tenggara, ngantrinya beda sama yang dari Eropa. Aku sama Jessica sempet kebingungan karena gak ada yang bisa bahasa Inggris dan gak tau sebenernya harus ngantri di bagian yang mana. Untung aja ada om- om Thai yang bisa bahasa Melayu yang bantuin....

Mata Asing

Waktu kita berbaring di atas gemerlapnya pasir pantai malam itu , tiba- tiba kamu mengajukan pertanyaan yang selama ini masih terus kucari jawabannya; "Apa cita- citamu?" "Banyak", cuma itu saja jawabku, karena terlalu susah menjelaskan kalau aku punya segudang cita- cita gila. Misalnya, kerja di NatGeo, jadi penulis, bikin museum dongeng, tourguide , dsb. Singkatnya, banyak! Jujur, aku tidak tahu apa yang benar- benar pandai kukerjakan. Aku bahkan juga bingung kenapa aku belajar mandarin! Jadi, keinginan di atas sepertinya mustahil. Untuk beberapa saat, kita terdiam dalam keheningan sambil menatap lautan bintang yang sepertinya kurang cahaya, bersimpati pada jiwaku yang muram. Aku menoleh memandang matamu yang sedang mengangkasa, mencoba menerka apa yang kamu pikirkan. Mungkin cita- citamu, atau mantan yang baru mencampakkanmu bulan lalu. Setidaknya, sinar bulan puranama yang berpendar dikedua mata besar nan indah itu memberitahuku bahwa aku tak sendiri. Kita...