Langsung ke konten utama

Taipei Story House ; Fine Arts Museum

Beberapa hari lalu, aku pergi ke Taipei Story House. Tiap bulan, tema pamerannya ganti- ganti. Sekarang tema pamerannya adalah"The Story of Fortune Telling" . Pameran ini berakhir tanggal 31 Agustus. Jadi buruan dateng! Seru lho! Cuma dengan bayar 40NT (kartu pelajar) & 50NT(umum), kita bisa nyoba dan tau macem2 cara ngeramal. Ada yang pake burung, bambu, roda, batu, tarot, dll. Ramalan cara barat juga ada. Nanti hasilnya di cap dikertas yang dikasih pas beli tiket masuk.
Hasil ramalanku? Ada yang bagus... Ada yang jelek banget... Tapi yang jelek itu dr jam lahir (aku salah masukkin jamnya jadi dianggep ga valid) XD *maksa* Iseng2 aja sih...Just for fun ini..  XD
DSC_0272
DSC_0281
DSC_0304
DSC_0307
DSC_0300
 
DSC_0286
DSC_0284
DSC_0316
Oh ya, ini websitenya.. (Kalo mau ngecek pameran mendatang dan informasi lainnya) http://www.storyhouse.com.tw/main/uploads/storyhouse/html/opening/
Habis dari sini, terus aku pergi ke Fine Arts Museum. Ga jauh kok, tinggal nyebrang aja... Sepuluh langkah doang paling.... Gratis kayaknya kalo pake kartu pelajar. Tapi kok guruku bilang bayar ya...(?) Gatau deh ah...
DSC_0318
Museumnya bagus, besar, & keren! Tadinya aku sempet gamau kesini gara- gara ngira isinya lukisan semua. Ternyata enggak!!! Isinya macem2! Ga ngebosenin pokoknya :D
Di lobbynya ada pameran mainan anak Amerika jaman kuno.
DSC_0319
DSC_0320
Di lantai satu ada mainan dan barang kuno. Ada juga barang2 aneh dan unik yang menceritakan tentang sejarah RRC & Taiwan. Banyak juga yang berisi kritikan terhadap pemerintahan komunis.
DSC_0321
DSC_0328
DSC_0331
Di lantai dua kalo gasalah lukisan (Aku ga tertarik jadi gakliat...)
Di lantai tiga ada pameran agak ilmiah gitu. Ga ngerti maksudnya jadi ganti ruangan. Disini ada pameran foto (termasuk foto polaroid) dan karya2 seni bertema urban. Ada juga gambar 3D. Nanti kita dipinjemin kacamata buat liat. Hehehehe...
Ada satu ruangan yang berkesan. Isinya ratusan gambar doodle sama  wayang cina. Bagus banget!!! *meleleh*
DSC_0334
DSC_0335
Dijamin kalo kesini gak nyesel! :D
Cuma kaki doang yang gempor sama banyak ruangan yang gaboleh difoto.... :(
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ninh Binh dan Perempuan Perkasa

Untuk  mengkahiri perjalanan kami di Vietnam, aku milih ke Ninh Binh, sementara Jessi pergi kursus memasak. Ninh Binh itu versi daratnya Halong Bay. Menurutku, sih, gitu. Letaknya juga gak jauh- jauh amat dari Hanoi, paling sekitar dua jam ke selatan. Begitu sampe, kami serombongan disuruh makan di resto. Walaupun menunya cuma nasi, tahu, dan sayur, tapi karena aku udah laper banget jadi rasanya nikmaaaat tak tergantikan! Eh, pas udah mau abis aku nemu item- item di tengah nasi.. Aku mikir; "Apaan, nih?!" O MAI GAT!!! TERNYATA KECOAK!! Sumpah, aku langsung speechless .. Orang- orang yang makan bareng aku sontak pada berenti makan, kaget juga liatnya.. Aku gak muntah seperti yang kalian bayangkan, cuma minum air banyak- banyak, abis itu ambil sepeda buat keliling Ninh Binh! Try to forget that awful experience! Di sana aku diajak ke Bich Dong Pagoda sama ke gua- gua yang aku gaktau namanya. Dulu, provinsi ini merupakan pusat kerajaan Vietnam selama beberapa dinasti. ...

Perbatasan Terkutuk (Vietnam- Laos)

Perjalanan menyebrangi perbatasan kali ini benar- benar tak terlupakan. Di sleeping bus yang kami tumpangi, aku tidur di bawah sementara di atasku ada tante Turki setengah baya yang selalu panas hati. Pas aku lagi tidur, tiba- tiba dia teriak di kupingku; "Heh! Kamu nyolong syalku, yah?" "What? I was sleeping!" "Tapi kenapa syalku ada di sebelahmu?"; bentaknya  lagi. "Mana kutau? Jatoh kali!" "I don't believe you!" "Whatever! I don't care.."; sahutku ikutan emosi. Pagi- pagi udah dibikin emosi. Kampret banget! Kalau gak mau jatoh, iket tuh di kepala biar jadi kaya pendekar kesiangan. Cape, deh. Gak lama, bus kamipun berhenti di perbatasan. Karena kami berdua dari Asia Tenggara, ngantrinya beda sama yang dari Eropa. Aku sama Jessica sempet kebingungan karena gak ada yang bisa bahasa Inggris dan gak tau sebenernya harus ngantri di bagian yang mana. Untung aja ada om- om Thai yang bisa bahasa Melayu yang bantuin....

Mata Asing

Waktu kita berbaring di atas gemerlapnya pasir pantai malam itu , tiba- tiba kamu mengajukan pertanyaan yang selama ini masih terus kucari jawabannya; "Apa cita- citamu?" "Banyak", cuma itu saja jawabku, karena terlalu susah menjelaskan kalau aku punya segudang cita- cita gila. Misalnya, kerja di NatGeo, jadi penulis, bikin museum dongeng, tourguide , dsb. Singkatnya, banyak! Jujur, aku tidak tahu apa yang benar- benar pandai kukerjakan. Aku bahkan juga bingung kenapa aku belajar mandarin! Jadi, keinginan di atas sepertinya mustahil. Untuk beberapa saat, kita terdiam dalam keheningan sambil menatap lautan bintang yang sepertinya kurang cahaya, bersimpati pada jiwaku yang muram. Aku menoleh memandang matamu yang sedang mengangkasa, mencoba menerka apa yang kamu pikirkan. Mungkin cita- citamu, atau mantan yang baru mencampakkanmu bulan lalu. Setidaknya, sinar bulan puranama yang berpendar dikedua mata besar nan indah itu memberitahuku bahwa aku tak sendiri. Kita...