Langsung ke konten utama

Yilan - 宜蘭縣

Sori baru nulis abis baru mood..
14 Agustus 2014..
Seperti orang Indonesia, rupanya orang Taiwanpun kadang suka ngaret. Janjinya berangkat jam 08.50 eh ngaret setengah jam. Yaweslah ya..... Gasampe dua jam kami sampe di tempat pembuatan bakiak terus dijelasin mulai dari asal usul dan cara pembuatannya. Tapi maklum, aku yang baru belajar buku satu bengong doang ga ngerti apa- apa.
Ngomong- ngomong, aku jadi inget lomba tujuh belasan..wkwkwkkwk XD


Habis itu kami dipersilahkan nyoba2 bakiak yang susah banget buat jalan (menurutku) dan itu sangat berisik... XD


Terakhir, kami bikin gantungan bakiak mini.... Hasil punyaku? Cacat banget..Kayunya kebakar semua.. =="



Tempat kedua yang kami datengin adalah restoran seafood.. Hambar..  Rata- rata pada gak nafsu makan. Alhasil, masih banyak banget sisanya. Itu masakan rasanya kaya tawar benyek2 gimanaaa gitu.. Terus ada daging ikan apa aneh banget, teksturnya kasar2 gitu....... :(
Nah, dari situ kami ke sumber mata air dingin.. Begitu masuk.. Doeeeeng... Airnya gak dingin ternyata... Warna airnya, maaf, agak kuning... Tapi mungkin emang warna airnya gitu kali yak.. Gajadi berenang deh. xD Daripada bengong, akhirnya aku cuma foto2, ngobrol, sama makan es...

Nah, tempat terakhir ini yang paling aku suka!!!! Pabrik kue!!!! Di dalem dikasih tester dan itu enak semua!!!! :''
Ada deh satu kue enak banget kaya bakpia dalemnya lemon2 enak badai. Tadinya mau beli itu. Begitu liat harganya..Kaget...  ==" Abis semua selesai belanja, kami diajak naik bikin keripik kue (entah nama mandarinnya apa). Itu enaaaaaaaaaaaaaak.....  Pokoknya ke pabrik ini menghapuskan segala rasa kecewa di restoran seafood & kolam renang. XD




taraa!! jelek2 begini enak lho!! :9
Itu aku salah potong.. harusnya cuma digores sedikit...kebablasan....wwkwkwkkwkwk...
Sekian cerita dari Yilan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ninh Binh dan Perempuan Perkasa

Untuk  mengkahiri perjalanan kami di Vietnam, aku milih ke Ninh Binh, sementara Jessi pergi kursus memasak. Ninh Binh itu versi daratnya Halong Bay. Menurutku, sih, gitu. Letaknya juga gak jauh- jauh amat dari Hanoi, paling sekitar dua jam ke selatan. Begitu sampe, kami serombongan disuruh makan di resto. Walaupun menunya cuma nasi, tahu, dan sayur, tapi karena aku udah laper banget jadi rasanya nikmaaaat tak tergantikan! Eh, pas udah mau abis aku nemu item- item di tengah nasi.. Aku mikir; "Apaan, nih?!" O MAI GAT!!! TERNYATA KECOAK!! Sumpah, aku langsung speechless .. Orang- orang yang makan bareng aku sontak pada berenti makan, kaget juga liatnya.. Aku gak muntah seperti yang kalian bayangkan, cuma minum air banyak- banyak, abis itu ambil sepeda buat keliling Ninh Binh! Try to forget that awful experience! Di sana aku diajak ke Bich Dong Pagoda sama ke gua- gua yang aku gaktau namanya. Dulu, provinsi ini merupakan pusat kerajaan Vietnam selama beberapa dinasti. ...

Perbatasan Terkutuk (Vietnam- Laos)

Perjalanan menyebrangi perbatasan kali ini benar- benar tak terlupakan. Di sleeping bus yang kami tumpangi, aku tidur di bawah sementara di atasku ada tante Turki setengah baya yang selalu panas hati. Pas aku lagi tidur, tiba- tiba dia teriak di kupingku; "Heh! Kamu nyolong syalku, yah?" "What? I was sleeping!" "Tapi kenapa syalku ada di sebelahmu?"; bentaknya  lagi. "Mana kutau? Jatoh kali!" "I don't believe you!" "Whatever! I don't care.."; sahutku ikutan emosi. Pagi- pagi udah dibikin emosi. Kampret banget! Kalau gak mau jatoh, iket tuh di kepala biar jadi kaya pendekar kesiangan. Cape, deh. Gak lama, bus kamipun berhenti di perbatasan. Karena kami berdua dari Asia Tenggara, ngantrinya beda sama yang dari Eropa. Aku sama Jessica sempet kebingungan karena gak ada yang bisa bahasa Inggris dan gak tau sebenernya harus ngantri di bagian yang mana. Untung aja ada om- om Thai yang bisa bahasa Melayu yang bantuin....

Mata Asing

Waktu kita berbaring di atas gemerlapnya pasir pantai malam itu , tiba- tiba kamu mengajukan pertanyaan yang selama ini masih terus kucari jawabannya; "Apa cita- citamu?" "Banyak", cuma itu saja jawabku, karena terlalu susah menjelaskan kalau aku punya segudang cita- cita gila. Misalnya, kerja di NatGeo, jadi penulis, bikin museum dongeng, tourguide , dsb. Singkatnya, banyak! Jujur, aku tidak tahu apa yang benar- benar pandai kukerjakan. Aku bahkan juga bingung kenapa aku belajar mandarin! Jadi, keinginan di atas sepertinya mustahil. Untuk beberapa saat, kita terdiam dalam keheningan sambil menatap lautan bintang yang sepertinya kurang cahaya, bersimpati pada jiwaku yang muram. Aku menoleh memandang matamu yang sedang mengangkasa, mencoba menerka apa yang kamu pikirkan. Mungkin cita- citamu, atau mantan yang baru mencampakkanmu bulan lalu. Setidaknya, sinar bulan puranama yang berpendar dikedua mata besar nan indah itu memberitahuku bahwa aku tak sendiri. Kita...